BONJOUR!

Monday, April 8, 2013

Cerpen-Permintaan Sang Maestro Fisika


Permintaan sang Maestro Fisika

Sebuah gedung bekas bangunan belanda nampak sangat ramai. SMA Charles De Gaulle, sebuah SMA termasyur di Jakarta. Bangunan mewah, fasilitas lengkap hingga mempunyai lapangan golf eksklusif. Raya berlari menuju taman. Disana ia duduk di sebuah bangku kecil yang indah.
“Ini si Akasa mana sih?” Raya terlihat sibuk mencari Akasa.
Akasa Dinarga, seorang pria tampan, gagah dan cerdas. Akasa selalu menjadi saingan Raya Parlovi dalam segala hal. Mulai dari bidang akademik hingga non-akademik. Setiap kali Akasa mendapatkan nilai 9 dalam ulangan, maka Raya akan berusaha mendapatkan lebih dari pada itu. Mereka sangatlah kompak, bersaing dengan cara yang sehat. Raya seorang kapten cheers dan Akasa seorang leader dari ekskul basket. Saking akrabnya mereka, banyak orang yang mengira bahwa ke dua orang itu pacaran. Memang, disetiap ada Akasa disitu ada Raya.
“Akasa!! Kamu aku tungguin dari tadi. Kemana aja lo?” Gadis cantik itu memukul Akasa dengan buku fisika yang dibawanya.
“Sori aku telat. Tadi soal fisika itu lumayan susah. Jadii kamu gabakal bisa ngerjain deh pokoknya!” Akasa menarik buku fisika yang Raya bawa.
“Eh eh, kamu bilang aku gak akan bisa ngerjain itu? Kita buktiin ya, siapa yang bakalan dapet nilai 100. Rayaaa Parloviii.” Raya mengoceh sambil memonyong-monyongkan bibirnya.
“Kalau nilai kamu lebih tinggi dari aku, nanti aku bakalan traktir kamu di cafe biasanya deh. Sepuas lo,” Akasa nyengir “tapi aku harap kamu tau ya kalau aku lagi bokek.”
Raya menyenggol tangan Akasa dan tersenyum senang, “Aduuh sepuas aku pokoknya, aku mau nasi goreng LA, pasta, es krimnya yang yummy itu terus terus aduuh pokoknya abis makan aku gak bakal bisa jalan.”
“Raya! Kamu kalo pesen aturan dong! Pokoknya kalau nilai kamu lebih jelek dari aku, kamu wajib traktir aku juga!” Akasa berteriak sekencang-kencangnya. Raya terus berlari tanpa memberi jawaban pada Akasa.
Beberapa hari kemudian saat hasil ulangan fisika diumumkan, Raya dan Akasa sama-sama mendapatkan nilai 10. Keduanya merasa senang sekaligus sedih. Andaikan ada nilai 11, pastilah mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk meraih nilai itu.
Suasana kantin SMA Charles De Gaulle sangat ramai. Menu yang disajikan beragam, bahkan bisa dikatakan kantin ini seperti restoran bernuansa cafe. Saat Raya dan Akasa sedang asik menikmati Lasagna kegemaran mereka, tiba-tiba mereka mendengar suara yang memanggil mereka.
“Perhatian-perhatian, bagi siswa dan siswi bernama Akasa Dinarga dan Raya Parlovi diharap keruangan kepala sekolah sekaran. Terimakasih.”
Pengumuman tersebut membuat jantung Raya berdetak semakin kencang. Darah Akasa berdesir sederas-derasnya. Mereka mendapatkan tatapan heran dari teman-teman seisi kantin. Saat perjalanan menuju ruang kepala sekolah banyak mata tertuju pada mereka. Seisi SMA Charles De Gaulle sibuk menggosipkan mereka. Ada yang bilang Raya dihamili Akasa. Ada yang bilang mereka menyelundupkan narkoba bahkan ada yang bilang bahwa mereka melakukan pembunuhan. Nampak wajah mereka begitu lesu, lemas dan sangat tak bersemangat. Akasa dan Raya sama-sama tak mengerti apa yang sudah mereka lakukan sampai dipanggil langsung oleh kepala sekolah. Tentu saja bukan hal sepele. Mungkin masalah besar.
Pintu ruang kepala sekolah dibuka. Raya memasuki ruangan tersebut diikuti Akasa yang komat-kamit berdoa.
“Ahirnya kalian datang juga.” Suara kepala sekolah membuyarkan keheningan dalam ruangan.
“Begini Raya, Akasa,” kepala sekolah menoleh pada murid-muridnya. Dibuka selembar surat yang sedari tadi dipegangnya.
“Kalian mendapatkan undangan untuk mewakili sekolah ini maju ke ajang Olimpiade MAFIA se-dunia di Paris.”  
 Raya menatap Akasa dengan tatapan tak percaya. Nafasnya kembali memburu.
“Bapak serius kami yang diminta mewakili sekolah ini?” Akasa memastikan kembali.
“Bapak nggak salah orang kan?” Raya menyahut pertanyaan Akasa.
 “Tidak. Mulai nanti pulang sekolah mohon kalian mempersiapkan diri. Nanti akan ada dosen-dosen dari National Univercity of Singapore untuk melatih kalian.”
Akasa dan Raya keluar dari ruangan kepala sekolah dengan perasaan lega sekaligus bangga. Mereka tidak menyangka akan mendapatkan durian runtuh. Bisa jalan-jalan ke Paris gratis dan mengikuti ajang bergengsi tingkat internasional. Teman-teman mereka sibuk bertanya apa yang terjadi pada mereka. Namun kedua sahabat itu nampak diam dan tersenyum saja.
Setiap hari Akasa dan Raya digembleng mati-matian oleh dosen-dosen itu. Materinya tak main-main, super banyak dan berat. Namun Raya dan Akasa tentu saja tak keberatan melewati rintangan tersebut. Mereka belajar belajar dan selalu belajar dimanapun mereka berada. Tiba saatnya mereka berangkat lomba, siap tak siap mereka harus berjuang sebaik-baiknya demi SMA Charles De Gaulle.
Saat lomba, Raya semula unggul diatas Akasa. Namun karena keteledoran Raya, Akasa berhasil menyahut skor gadis blasteran itu. Mereka berhasil berdiri di semi final mengalahkan beberapa negara seperti Jepang, German, bahkan tuan rumah sendiri Paris. Tiba di ajang itu, ketenangan dan ketelitian menjadi suatu aspek utama untuk menuju ke final. Akasa terlihat tenang dan menikmati lomba itu bak permainan.
Penentuan maju ke final diumumkan, Raya tak bisa melangkah ke jenjang ini. Tinggalah wakil dari Indonesia Akasa , wakil dari Los Angles, dan wakil dari Belanda. Mereka berjuang untuk mendapatkan emas dalam olimpiade ini. Sebelum beranjak ke final, mereka diberi sedikit waktu untuk beristirahat.
“Akasa, selamat ya. Semangat!” mata Raya meneteskan air mata.
“Makasi Yak, kamu emang bestfriend aku banget. Jangan nangis dong. Tenang aja aku bakalan menang. Kamu siap-siap aja nraktir aku makan.” Akasa tersenyum dan mengacak-acak rambut Raya.
“Akasa! Kamu harus jadi yang terbaik.” Teriak Raya saat Akasa hendak menuju ruang lomba.
Hati Rara berdetak ‘dag dig dug’ saat Akasa masuk keruangan lomba. Raya terus berdoa supaya rivalnya mendapatkan hasil yang terbaik. Meskipun Raya memang kalah dalam olimpiade itu tapi ia tak mau untuk putus asa dan membenci sahabatnya yang masuk final. Justru ia mendoakan Akasa agar mendapat emas sesuai harapan sekolah mereka.
Pengumuman hasil olimpiade dibacakan, Raya duduk disamping Akasa. Akasa lagi-lagi sangat tenang. Laki-laki itu menyimak hasil pengumuman dengan seksama. Saat nama AKASA DINARGA dibacakan menjadi THE WINNER OF PHYSICS COMPETITION YEAR 2012 Raya sontak heboh. Ia menangis bangga sekaligus terharu. Akasa naik ke panggung dengan senyum lebar. Menambah manis sosok pria gagah ini. Ia mendapat banyak sekali hadiah dan beasiswa.
Turun dari panggung Raya segera memeluknya.
“kamu emang rival paling baik Yak.” Akasa mendekap Raya dengan erat
“Kamu bisa minta aku traktir kamu dimanapun tempat kamu mau. Suer!” Raya masih menangis dipelukan Akasa.
“Ra, aku boleh minta sesuatu nggak dari kamu? Bukan traktiran.” Akasa melepas pelukan dan menatap Raya dengan tatapan matanya yang tajam.
“Apa?” Raya masih meneteskan air mata.
“Mau nggak kamu jadi cewek aku?” akasa menggenggam tangan Raya dengan erat.
“Kamu nggak salah ngomong? Apa aku salah denger?” Raya masih sibuk mengelap air matanya.
“Raya, aku serius. Kamu mau kan jadi cewek aku?” Akasa setengah memohon pada Raya.
“Mau gak ya?” Raya menatap Akasa dengan tatapan manja. Mereka kembali berpelukan.
Kini, mereka bukanlah seorang sahabat sekaligus rival kembali. Namun menjadi pasangan yang sangat serasi . Pasangan yang bisa mengharumkan nama sekolah mereka di ajang internasional.
Tamat-
Read More

Novel-Adventa #2


“Taxiiii,...”
Sebuah taxi biru menuju ketempat dimana Jenn berdiri.
“Jalan Jahe no 89 ya pak..”
Taxi meluncur dengan segera ke alamat mana yang Jenn tuju. Sebuah rumah yang tak begitu besar tapi sangat asri dan terawat. Rumah itu sepertinya kosong. Jenn mengetuk pintu rumah itu berkali-kali tapi tak ada yang menyahut. Jenn lalu bertanya pada seseorang di dekat rumah itu.
“Permisi bu,. Apa benar yang punya rumah itu bernama Pak Anwar?”
“Iya neng bener. Ada apa ya kalau boleh tau? Si eneng teh naon? ”
“Oh anu bu, saya temannya Evan dan Advan. Kok rumahnya kosong bu? Apa mereka sedang pergi?”
“Ooh itu neng, Bu Anwar dan anak-anakknya di rumah sakit. Itu tuh yang kembarannya si Evan. Kan dia denger-denger nih neng,..” tampak keraguan di wajah Ibu itu.
“Denger-denger gimana bu?”
“Ya kata orang-orang sih dia kena HIV/AIDS neng. Si eneng belon tahu yak?”
“Ya Allah...” pikiran Jenn benar-benar kacau. Jenn masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Advan.
“Mengapa Advan tak memberi kabar padaku?“ batin Jenn. “Lebih parah lagi kenapa Evanpun ngga’ ngasih tahu gue kalau adiknya sakit? Gue ngga’ tau harus gimana lagi.” Jenn tertunduk lemas di depan rumah Advan.
“Jenn ?” suara itu mengagetkan Jenn. Jenn lalu berusaha menyembunyikan air matanya yang sudah tidak bisa dibendung lagi.
“Lo kenapa? Kok lo kesini?”
“Evan.. ” Jenn langsung memeluknya. Kembali air mata Jenn tumpah di bahu Evan. Evan yang awalnya kebingungan dengan tingkah Jenn, kini ia mengerti.
“Lo udah tau?”
“Kenapa lo ngga’ ngasih tahu gue. Gue kan sahabat lo. Pacar adek lo. ”
Mulanya Evan shock dengan perkataan Jenn. Lalu Evan masuk ke dalam dan mengambil sesuatu untuk Jenn.
“Nih, Advan nitip ini.” Evan memberi sebuah bingkisan merah hati dan langsung saja Jenn membukanya. Astaga Jenn kaget sekali. Ini adalah barang-barang yang mereka beli sewaktu di Bandung. Dan satu lagi, ada sebuah surat dan sketsa wajah Jenn. Jenn membuka surat itu dengan hati-hati. Jenn melirik Evan tapi ia hanya tersenyum.
Dear Jenn
Maaf ya kalo gue kaya’ lari dari lo. Gue minta maaaaaf banget. Sebebernya ngga’ rela juga sih Jenn. Takut lo diambil orang. Hehehe #bercanda
“Lo kira gue seneng lo lari dari gue Van?” umpat Jenn dalam hati. Lalu Jenn lanjutkan membaca lagi.
Jenn sayaaaang, maaf juga ya aku ngga’ nyeritain yang sebenarnya. Aku takut bikin kamu khawatir ma akuu. #GR banget deh gue.
“Tapi jusutu kamu buat aku makin khawatir Advaaan” seruku dalam hati setengah berteriak. Air mata kini membasahi pipi Jenn lagi.
Jenn sayang,, kamu jangan ngumpat dalam hati kamu lagi ya?! Aku bakalan baik baik aja kok. Aku mau kamu mendoakanku. Agar aku bisa sembuh.
  Tertanda Advan

“Kenapa lo tau Van gue ngumpat terus dari tadi? Gue masih ngga’ tau  HIV/AIDS bisa disembuhin pake apa. Kalo gue tau, gue bakal ngasih itu ke elo supaya lo cepet sembuh. Kemanapun bakal gue cari Van demi lo...” Jenn semakin tak kuasa menahan air matanya. Evan lalu mendekati Jenn.
“Lo mau gue anter ke Advan?” serunya sambil merangkul Jenn.
“Ayo Evv kita kesana!”
Jenn langsung menuju RS Medical Permata. Hati Jenn terasa tak karuan. Jenn khawatir sekali. Jenn tidak mau sampai kehilangan Advan.
“Lo tenang aja Jenn. Jangan terlalu khawatir.”
“Lo bilang apa? Jangan khawatir? Itu kembaran lo Van. Adek lo. Emangnya lo seneng dia kenapa-napa?” kemarahan Jenn pun memuncak. Jenn merasa bersalah saat kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutnya.
“Mm-maaf Van. Gue ngga’ maksud...”
“Lo bener Jenn” potong Evan berikutnya. Jenn makin merasa bersalah. Mereka kembali terdiam dalam pikiran masing-masing.
“Udah sampe Jenn” Evan mengagetkan Jenn untuk yang kesekian kalinya. Jenn langsung turun dan mencari kamar yang Evan tunjukkan.
“207.. 208..209... Ini pasti kamar  Advan. ” Jenn langsung masuk saja. Jenn melihat Advan terbaring lemah. Air mata Jenn kembali keluar. Jenn langsung memeluknya.
“Advan.. Ini gue, Jenn” bisikan Jenn membuat Advan terbangun dari tidurnya. Ia tersenyum kemudian memeluk Jenn. Pelukannya begitu erat seolah ia tak mau kehilangan Jenn. Kemudian, Jenn memberanikan diri untuk menatapnya.
“Advan.. Kenapa lo ngga’ pernah cerita ke gue. Kenapa lo nyembunyiin ini dari gue. ” tangispun keluar lagi dari mata Jenn.
“Sstt ini dinikmatin dulu cintaa... Mungkin ini pelukan terakhir.” senyum termanis Advan terlihat lagi. Jenn memonyongkan bibir sambil memeluknya. Jenn merasakan hal yang sama. Tetapi Jenn harus optimis Advan pasti sembuh. Tiba-tiba ada seseorang masuk ke kamar Adavan.
“Eh nak Jenniver.. Kok dibiarin disitu sih Van.. ”
“Eh-eh tante.” Jenn tersenyum sambil menyembunyikan air matanya.
“Memang cantik ya Van orangnya. Sama persis sama apa yang sering kamu ceritain.” Mama Advan mendekati kami. Jenn lalu menyalaminya. Tante Fernita memang benar-benar cantik meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
“Nak Jenn sudah makan belum? Makan dulu ya. Biar dianter Evan...”
“Ah ngga’ usah Tante,. Makasih banyak. Saya udah kenyang kok.”
“Kenyang dari mana lo? Dari tadi lo gue tawarin makan aja ngga’ mau.”
“Ahh sttt diem aja napa!” Jenn mencubit pelan lengan Advan.
“Van,. Nak  jenn,  Tante mau keluar sebentar ya. ”
“Oh ya bye ma..”
“Mari tante..”
Tante fernita meninggalkan mereka. Jenn dan Advan kembali hanyut dalam pikiran mereka masing-masing.
“Jenn gue sayang sama lo. Je t’aime. ”
“Gue juga sayang lo kok Van.. ”
“Kalo lo sayang sama gue, berarti lo juga harus bisa ngerelain gue kalo suatu saat gue pergi. ” ucapan Advan membuat detak jantung Jenn berhenti sesaat.
“Van,. Kenapa lo ngomong gitu. Gue ngga’ mau lo pergi. Yang gue mau, lo sembuh dan kita bisa sama-sama terus. ”
“Jenn ini udah waktunya. Jeenn-ni-ver-gu-e-saa-yang-elo” tiba-tiba mata Advan terpejam. Detak jantungnya pun sudah tak terdengar.
“Advaaaaannn bangun Van.. Lo jangan tinggalin gue Vannn. Aadvannn”
Jenn berteriak histeris. Baru saja ia bertemu dengan Advan, tiba-tiba sekarang Advan sudah pergi. Jauh meninggalkannya. Segera saja Evan masuk. Evan memanggil dokter dan Tante Fernita. Yang Jenn lihat, Evan hanya tertunduk lesu melihat adiknya sudah tak lagi bernyawa. Tante fernita memeluk Jenn , Ia merasakan hangat pelukan Tante Fernita. Jenn menangis melihat jasad Advan. Rasanya air mata Jenn sudah nyaris kering. Senyum simpul di wajah Advan menandakan bahwa ia tidak ingin melihat Jenn bersedih lagi.

“Jenn..” Evan memanggil Jenn. Namun Jenn menghiraukan saja panggilannya. Yang Jenn masih inginkan adalah disini. Ditempat peristirahatan Advan yang terakhir. Jenn ingin menemaninya.
“Jenn lo harus pulang. Ini udah sore.” Evan menegur Jenn sekali lagi. Jenn menggelengkan kepala. Jenn tak berminat untuk berbicara sepatah katapun pada Evan. Karena dalam diri Evan, Jenn juga melihat Advan.
“Jenn.” Evan menarik lengan Jenn. Entah mengapa kali ini Jenn menurutinya saja. Jenn merasa Advan yang menyuruhnya untuk segera pulang karena disini bukanlah tempatnya.


“Jenn” Evan memberi Jenn segelas teh hangat. Beberapa hari ini Evan sangat perhatian dengan Jenn.  Setiap hari, ia datang ke rumah Jenn dan membawakan Jenn makanan, kado, film, menyalinkan catatan, tugas, semua ia lakukan agar bisa membuat Jenn kembali seperti dulu lagi. Akan tetapi Jenn masih belum bisa menerima kepergian Advan. Lambat laun Jenn mulai terbiasa. Seperti kata Evan, biarkan hidup ini mengalir apa adanya. Yang terpenting Jenn harus menatap masa depan. Sebentar lagi Jenn juga ujian. Jenn tidak ingin  nilainya turun lagi seperti belakangan ini.

Hari terakhir ujian. Walaupun Jenn masih bisa bangkit tapi rasanya hati Jenn masih saja sakit. Jenn seperti melihat Advan tersenyum bahagia kepadanya. Kini tiada lagi pertengakaran hebat, tiada lagi saling taruhan nilai, yang ada hanyalah kenangan manis. Tetapi Jenn harus bangkit. Ia tak boleh terpuruk lagi. Jenn melihat Evan yang sedang duduk sendirian di taman.
“Van lo ngga’ lega?” tanya Jenn membuyarkan lamunannya.
“Gue lega Jenn. Oh iya gue mau ngomong nih.”
“Ngomong aja. ” Jenn melihat Evan dengan tatapan serius.
“Gue mau ambil kuliah di Oxford. Nyokap bokap udah nyiapin semua yang disana.”
“Jadiii lo mau pergi Van?” Jenn mengalihkan pandangannya. Ia merasa sangat sedih.
“Iya.. Maafin gue ya, gue ngga’ bisa jaga lo lagi. Jaga diri lo baik-baik.”
“Terus lo berangkat kapan?”
“Besok. Jenn gue mau siap-siap dulu ya. Bye.
“Evan pergi? Ngga’ dia ngga’ boleh pergi.” kata Jenn dalam hati. Jenn tidak ingin kehilangan orang yang Jenn sayangi untuk yang ke dua kalinya.
“Eh Jenn lo bisa anter gue ke airport kan?”
“Mm ngga’ tau.”
Jenn segara pergi meninggalkan Evan. Evan yang melihatnya merasa sangat bersalah. Evan hanya bisa melihat kepergian Jenn tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia menyadari sangatlah berat untuk melakukan ini. Evan lalu bergegas pergi untuk mengunjugi makam adiknya untuk sekedar berpamitan.
“Van, halo apa kabar? Lo baik-baik aja kan?” Evan berjongkok di sebelah kiri pusaran adiknya dan meletakkan setangkai mawar putih.
“Vaan, gue kesini cuma mau pamitan. Gue mau kuliah di Oxford.” raut wajah Evan begitu sedih. Disamping ia sudah tak bisa melihat dan menjaga Jenn tapi ia juga tidak bisa lagi menjenguk adiknya.
“Van.. Gue baru sadar, lo ternyata berharga banget buat hidup gue. Sekalian juga gue mau minta maaf. Gue ngga’ bisa jagain Jenn lagi buat lo. Maaf Van.” air mata Evan mengalir begitu saja. Sebelum meninggalkan pusaran Advan, Evan menggenggam tanah di makam itu seperti ia sedang memegang tangan adiknya. Ia lalu mengelus nisan adiknya dengan kasih sayang.
“Bye Van.”

Evan mencari Jenn disekitar bandara. Nampak jelas bahwa ia sangat menanti kehadiran gadis itu. Gadis yang selalu membuatnya tersenyum. Sudah lebih dari 1 jam Evan menunggu. Pesawatnya juga sudah datang. 5 menit lagi ia harus segera masuk ke pesawat. Tetapi gadis itu belum juga muncul.
“Bagi penumpang Garuda Indonesia Boeing 747 harap segera menaiki pesawat.”
Evan menaiki pesawat dengan langkah gontai. Ia akan meninggalkan Indonesia, kampung halamanya, bahkan gadis yang dicintainya. Ia mencari kursinya 18F.  Namun disebelahnya diduduki oleh seorang wanita.
“Maaf permisi, boleh geser sedikit?”
“Sori nggak bisa. ” gadis itu menghadap ke wajah Evan. Betapa terkejuutnya Evan bahwa yang dilihatnya saat ini adalah gadis impiannya, Jenn.
“Kamu Jenniver Maharani?”
“Ya iya lah Evaan.. Ini gue, apa lo amnesia? Enggak kan?”
“Jenn.” Evan langsung memeluk Jenn karena merasa sangat bahagia.
“Lo ngapain disini Jenn?” wajah Evan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dan kekagetannya.
“Gue mau sekolah di Oxford.” tukas Jenn yang tersenyum lebar.
“Jangan bilang, lo buntutin gue.” Evan memegang tangan Jenn dengan erat. Bersamaan dengan take-off nya pesawat. Evan melihat Advan melambaikan tangan kepada mereka.
Advan tersenyum bahagia lalu menghilang. Evan berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan meninggalkan Jenn untuk yang kedua kalinya.

--Tamat--
Read More

Novel - Adventa

Shit
Umpat Jenn dalam hati. Jenn benar-benar jengkel. Kali ini Jenn kalah lagi dari Advan. Dalam 2 kali ulangan Fisika, Jenn selalu kalah tipis dengan Advan. Jika Jenn mendapatkan nilai 98, Advan mendapat 100. Advan melihat  Jenn dengan penuh kemenangan. Lalu Jenn membalas tatapannya dengan likrikan matanya yang tajam.
“Jenn lo harus traktir gue.. Lo kan kalah lagi di ulangan fisika.”
“Iya iya.. Gue ngga’ bakalan ingkar janji kok sama elo. Entar pulang sekolah makan di foodcourt deh.”
“Sippo Jenn.. Entar gue tunggu di parkiran ya..”
“Iya iya...” dengan kekesalan yang kian memuncak Jenn kembali ke tempat duduk. “Lebih baik gue nge-design baju” tukas Jenn dalam hati.
Jenniver Maharani. Gadis 17 tahun yang sangat cerdas. Dia hobi sekali mendapatkan nilai diatas  90. Jenn begitu panggilannya. Ia sangat mahir men-design baju. Hanya saja satu yang menjadi kendalanya, Advan. Nama lengkapnya Syamsir Andrey Advan. Ia senang sekali taruhan nilai dengan Jenn. Sering sekali keduanya bertengkar hebat mengenai sebuah soal Logaritma. Teman-teman merekapun heran dengan tingkah Jenn dan Advan. Banyak orang mengira mereka pacaran. Ada juga yang mengatakan mereka musuhan karena hampir di setiap kesempatan, mereka selalu berdebat. Jenn juga mempunyai sahabat yang ternyata adalah kembaran dari Advan. Yap, dia adalah Andrey Evan Pamungkas. Sama dengan Advan, Evan juga pintar dalam segala bidang. Tapi di mata Jenn, meskipun Evan dan Advan sama persis, tetapi Jenn lebih menyukai Advan. 
“Lo kalah lagi Jenn, dari taruhan konyol lo?” Evan membuat gambar Jenn sedikit tercoret.
“Lo bikin gue kaget dodol... Kali ini gue emang kalah tapi lihat entar, siapa yang menang pas ulangan Matematika. Gue yakin, gue bakalan dapet 100. ”
“Yayaya gue yakin lo bisa kok. Btw, entar jalan yuk.. Udah lama kan kita gak makan bareng?”
“Wah sorii banget deh Evv.. Besok aja gimana? Gue udah janji sama si Advan nih, buat nraktir dia makan.” tampak di wajah Evan kekesalan sebentar. Lalu ia kembali tersenyum.
“Ya udah deh ngga’ papa besok janji loh ya.”
“Sip deh..” Jenn mengacungkan kedua jempolnya sembari tersenyum.
“Yah masa gue kalah sih sama adik gue sendiri? Payah banget deh.” umpat Evan dalam hati. Ia ingin sekali terlahir sendirian di bumi ini. Ia sebenarnya tak suka dengan kehadiran kembarannya, menurutnya Advan membuat dia harus berjuang untuk mendapatkan apapun yang ia mau. Termasuk dalam mendapatkan Jenn.


“Lama banget sih? Dasar cewek.”
“Ih sabar dikit napa? Ini nih kembaran lo ngasih tugas ke gue. Mana itu banyak lagi.”
“Oh--” hanya itu yang keluar dari mulut Advan. Ia mengambil langkah mundur sambil menaiki motor kesayangannya. Sebuah MoGe hadiah dari papanya tepat di hari ulang tahunnya kemarin.
“Cepetan naek! ”.
“Iya sabar kenapa sih. Lo dari tadi sensi melulu deh. Lagi dapet lo? ” umpat Jenn kemudian diikuti senyum dari Advan.
Diseberang sana Evan melihat mereka dengan api cemburu. Evan harus bersaing dengan adiknya. Advan selalu saja dapat menang mengalahkannya.
“Santai aja bro,.. Lo masih bisa ambil dia.” ucap David sambil menepuk pundak Evan.
“Oh elo Vid.. Gue kira siapa.”
“Yah lo sih Evv, kurang tanggap and respek sama cewe.. Jadi gini nih, inceran lo digebet juga ma si Advan.”
“Hah.. Udahlah Vid, ayo kita main tennis aja.” ajak Evan kemudian. Ia ingin menenangkan perasaannya yang tak menentu.

“Advan, lo harus siap-siap buat nraktir gue abis ulangan Matematika karena gue bakalan dapet 100.”
“Jangan ngarep lo.. Lo tau kan gue jauh lebih pinter dari Lo?”
“Jangan sombong deh Van.. Entar lo liat sendiri aja. ”
Tak lama pesanan mereka datang. Merekapun menikmati makanan mereka sendiri.
“Jenn, lo udah ngerjain soal yang di buku Kimia belom?”
“Belom tuh Van.. Entar kita kerjain bareng yok.. ”
“Ok deh.. Gue tau lo pasti ngga’ bisa kan? Jadi entar gue bantuin kok.” senyum simpul Advan menghiasi wajahnya yang tampan itu. Jenn hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku sobat-musuhnya ini.
“Abis ini lo mau kemana Jenn?”
“Gue mau pulang. Duit gue abis buat bayarin lo makan. ” omel Jenn dengan mulut dimonyong-monyongkan.
“Oh--” lagi-lagi hanya itu yang keluar dari mulut Advan. Memang,  Advan kadang terkesan cerewet tapi pada saat-saat seperti ini ia sangat irit untuk mengeluarkan kata-kata.
“Jenn pegangan yang kenceng. Gue mau nunjukin lo ke tempat favorit gue. Itu hadiah buat lo.”
“Hah? Hadiah apaan?” Jenn  masih bingung dengan maksud perkataan Advan.
“Hadiah karena lo udah mau tarohan nilai ma gue.”
Jenn hanya menggangguk. Motor Advan melaju dengan kencang. Udara yang kian dingin membuat dekapan Jenn ke Advan semakin kencang.
“Udah sampe Jenn.”
“Disini dingin ya tapi nyamaaan banget.” Jenn lalu berjalan kesebuah bangku panjang dan menyandarkan kepalanya disana sembari menatap pemandangan di depan matanya.
“Tadi lo nyari kesempatan juga kan buat meluk gue?” Advan menyenggol lengan Jenn.
“Disaat-saat bagus kaya gini bisa kan lo ngga’ narsis?” kata Jenn sambil mencubit pelan lengan Advan.
“Jenn lo tau ngga’ ini kalo malem baguus banget. Banyak lampu-lampu disana.” Advan menunjuk ke sebuah bukit kecil.
“Iya ya.. Pasti bagus banget.” Jenn terus memandangi pemandangan yang begitu memikat hatinya.
“Jenn gue boleh ngomong ngga’ ke elo?” raut wajah Advan berubah serius.
“Tinggal ngomong aja. Gue dengerin kok” Jenn tidak memperdulikan Advan.
“Aduhh Jenn gue serius.” Advan mulai panik.
“Gue juga Advaaaan.” lanjut Jenn kemudian.
“Jenn, lo tau kan sejak gue ngadain taruhan  ma lo, gue rasa cuma elo yang bisa ngertiin gue. ”
“Hmm ya? ” seru jenn tanpa mengalihkan pandangannya.
“Jenn gue serius.” Advan memegang tangan Jenn dan memegangnya lebih erat.
“Lo kenapa sih Van? ”
“Guue,. Gue sayang ma lo Jenn, gue cinta ma lo Jenn.”
“APA? GUE NGGA’ SALAH DENGER?”
“Iya Jenn. Gue CINTA SAMA LO. GUE SAYANG LO. LO MAU KAN JADI CEWE GUE?“
“Van? Gue ngga’  salah denger nih?”
“Sebenernya gue udah suka sama lo sejak dulu waktu kita pertama ketemu... Tapi gue ngga’ tau perasaan lo.” wajah Advan berubah menjadi murung.
“Van? Lo mau tau perasaan gue?” hanya anggukan yang Advan berikan. Ia tidak yakin apakan Jenn mau menerimanya. Jenn mengangguk dan terus menggangguk.
“Gue sayang lo Van.. Gue mau jadi cewe lo.” perkataan Jenn membuat Advan memeluknya. Advan sempat melepaskan pelukannnya. Ia menatap Jenn sebentar lalu tersenyum penuh kelegaan. Ia lalu memeluk Jenn lagi.  Advan tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang disayanginya juga menaruh hati padanya. Saat pulang ke rumah, Jenn sangat merasa bahagia. Ia segera melempar tubuhnya di kasur dan menelpon Evan. Jenn merasa Evanlah yang wajib mengetahui hal ini pertama kali.
“Halo Evan.. Ini Jenn”
“Oh halo Jenn, ada apa? Tumben telpon gue?”
“Eh iya.. Gue mau ngabarin ke lo nih..”
“Wah kayaknya kabar baik nih.. Apaan sih, gue jadi penasaran nih.”
“Tebak dong...”
“Lo abis dapet kuis undian ya kan?
“Jiahh sok tau lo.. Gue JADIAN sama ADVAN” Evan shock berat mendengar berita itu. Hatinya serasa disayat-sayat. Ia merasa bersalah mengharapkan seorang gadis yang tak menyukainya.
“Oh-- ” Evan meremas gagang telepon yang dipegangnya. Seakan ia ingin menghancurkannya sama seperti apa yang ia rasakan saat ini.
“Kok cuma oh sih..”
“Selamat ya..” tuutt tuut.. Tiba- tiba saluran telepon terputus. Jenn tidak memperdulikannya. Ia tersenyum puas akan kejadian yang menimpanya tadi siang.


Pagi harinya ia dijemput Advan menuju SMA Harapan Jaya. SMA Swasta terbaik di kota ini. Mereka makin saja lengket. Evan yang sakit hati melihat adiknya itu kini mulai menjauh. Jenn merasa hari-harinya semakin berwarna. Ia juga sering mengunjungi bukit yang menjadi TKP penembakannya.
Namun dalam seminggu ini, Advan menghilang entah kemana. Jenn sudah menelpon ke hp-nya berkali-kali tapi tak ada jawaban. Evan semakin menjauh darinya. Dan bodohnya sebagai pacar Advan, Jenn tidak tahu-menahu soal alamat rumah Advan. Jenn yakin Evan tahu penyebab menghilangnya Advan. Tetapi Jenn ragu ingin bertanya pada Evan karena Ia mendengar beberapa kabar bahwa Evan cemburu pada adiknya itu. Jenn mencoba mencari tentang alamat Advan melalui Pak Slamet, Petugas bidang data siswa.





Read More

© La Adorable, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena